Nakhoda kapal meneropong, ooiii .. apakah kehidupan kau yang di pedalaman sama dengan yang di pantai .. !?
Aku adalah Nakhoda kapal ‘the Voyager’ yang sedang ekspedisi ke beberapa pantai di seluruh benua dan pulau-pulau di permukaan bumi …
Aku menyaksikan perbedaan pantai-pantai pariwisata di tempat-tempat ini :
1. Pantai Kuta dan Sanur Bali ..
2. Pantai Ancol
3. Pante Gurutee, pesisir Aceh Barat
4. Pantai Pariwisata di India dan Srilanka
5. Pantai Lebanon
6. Pantai Corsica, Italia
7. Pantai Amsterdam
8. Pantai Swedia, Denmark, Norwegia ..
9. Pantai Rio de Janeiro, Brazil
Yang menarik adalah …
1. Pantai di India, Aceh dan Ancol suasana sama, turis bukan berbikini, tapi pakaian renang sopan (pendapat umum).
2. Pantai Swedia, Denmark berbikini (kadang nudist)
3. Pantai Rio de Janeiro, (bikini hanya ala-kadarnya).
Bagi para Nakhoda seperti aku, kehidupan pantai menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat di daratan nya. Kalo para turis dibiarkan bebas berekspresi, begitulah kondisi masyarakat wilayah tersebut.
Pertanyaanku :
1. Ada pendapat yang menggugurkan opini ku ?
@Della .. makasih ya, kau memang TOP !
@djou & thinker … makasih sumbang sarannya. Jadi kalo menurut djou, kondisi alam yang membuat ‘kebebasan’ berlebihan .. Thinker lebih bicara soal budaya asli Bali yang ‘memang begitu’ adanya …
Ditanyakan oleh Jampang
Jawaban terbaik mengenai pertanyaan “Nakhoda kapal meneropong, ooiii .. apakah kehidupan kau yang di pedalaman sama dengan yang di pantai .. !?” :
Answer by DELLA ANNA the Campanulla
HI,
Bang @Jampang, sepertinya persepsi abang dengan teropong ” the voyager ” engga bener dech !
menurut penelitian abang ” bahwa kehidupan pantai yang sudah disebutkan diatas menggambarkan juga kehidupan masyarakat didaratan ” SEMUANYA TIDAK BENAR.
mengapa !
karena kehidupan pantai adalah kehidupan ” sementara , just fun – liburan – menikmati panas matahari- melepaskan stress- mencari teman- bertukar pengalaman- of untuk menikmati kocek ticket pantai Barcelona agar dapat melihat payudara yg bra atau pantat yg telanjang -gratis untuk dilihat ”.
apa yang mereka lakukan ” bukan berarti mereka juga demikian hidup didarat ”.
dalam kacamata yg bagaimana persepsi ini kita nilai.
apakah kita hanya menilai ” luarnya saja tanpa melihat bagaimana didalamnya – dalam arti Imannya !”.
kehidupan manusia dalam konteks sosial telah berubah, oleh karena kesibukan ini manusia mencari sesuatu untuk mengurangi ” tekanan ”yaitu dengan cara pergi kepantai mencari ” pelepasan tekanan ”. manusia mencari sesuatu yang dapat membebaskan dirinya dari tekanan / kesibukan yang ia buat sendiri.
apa yang abang gambarkan diatas ” itu bersifat hanya sementara ”, ketika kunjungan pantai selesai maka manusia pantai akan kembali kepada kehidupan normal.
mereka tidak akan bawa apa itu kehidupan pantai dalam kesibukan mereka hari-hari sebagai pegawai Bank, sebagai pegawai kantor bursa effek sebagai pegawai pemerintah dsb.
jadi sepertinya kita harus tidak melihat dan langsung menilai bahwa kehidupan pantai mencerminkan siapa seseorang dikehidupan darat.
semuanya tergantung dimana kita berada, tergantung kultur, tergantung norma-norma atau term.
seseorang Indonesia yang berada di pantai ” Kijk Duin Denhaag ( Amsterdam tdk memiliki pantai ) ” juga akan adaptasi dengan lingkungan yang ada, maka ia akan menanggalkan pakaian renang yg sopan dan menggantikannya dengan bikini yang ” aduhai ”
jangan salah ! dia seseorang yang sangat taat pada Agamanya.
jadi pendapat Della maka keadaan pantai ini TETAP SEMENTARA
sebab begitu seseorang kembali ke darat, maka ia akan kembali kepada kehidupannya yang sebenarnya.
dengan demikian kita tidak bisa menilai ” seseorg yang berpakaian nudist dipantai akan demikian nudist pula dalam kehidupan normal hari-harinya ”.
dan jangan salah mereka yang bisa berlibur kepantai adalah mereka yang ” mempunyai uang ekstra untuk dapat menikmati sesuatu yang tidak sama dengan kehidupan hari-hari, dalam arti rileks-santai-melepaskan tekanan / stress”’.
so bang @Jampang , tegas Della TIDAK SETUJU DENGAN TEROPONG THE VOYAGER .
sebab menurut Della, seseorang tidak bisa dinilai sesaat ketika ia ada dipantai atau di bar atau di caffe atau di Mall, kita harus menilai seseorang dari sisi lain yang bukan terlihat di luar / jasmani tetapi lebih terarah didalam / rohani
apa yang akan kita pertanggung jawabkan di muka Allah SWT bila kita bertemu ? ” apakah kita akan mempertanggung jawabkan keadaan kita yg nudist / bugil atau kita mempertanggung jawabkan Iman kita ? ”
aku kira bang @Jampang tahu dech jawabannya.
thnx bang@Jampang, Dell bisa bertukar pikiran denganmu
thnx
Apa yang sedang anda pikirkan mengenai topik “Nakhoda kapal meneropong, ooiii .. apakah kehidupan kau yang di pedalaman sama dengan yang di pantai .. !?” diatas ?
Related Articles
Informasi Terkait :
Berita Terbaru :
Filed under: Sumatera | Tagged: apakah, dengan, Kapal, kehidupan, meneropong, Nakhoda, ooiii, pantai, pedalaman, sama

>
Ooooi ….. Om Jampang liat aku ga….????
aku lg sunbathing neh……
>
Kalo kita Otaknya ngeres ( energi negetif)
Semua didunia ini Maksiat (energi – )
Semua orang tidak bener (-)
Lain lubuk,lain ikannya.
Lain orang lain pula hatinya.
Demikian pula dalam kehidupan.
Jadi gambaran hidup,sifat,sikap dan perbuatan, berpusat dalam hati masing masing orang,bukan pada suasana dimana orang.
Sebab hati adalah pusat penggerak dan pengatur kehidupan seseorang.
Apa yang ada didalam hati,akan tertuang dalam pikiran,sehingga pikiran akan memerintahkan kepada organ tubuh dan terjadilah aktivitas manusia.
Kalau hati anda jahat,maka jahatlah perbuatan anda.
Jika hati anda suci,maka sucilah perbuatan anda.
Jadi,meskipun kehidupan masyarakat disuatu negara itu buruk,seronok,liar,bebas,ambur adul,terbiasa dengan hanya memakai BH ke Mall,ke pasar,namun ketika seseorang yang berhati baik dan suci datang dari negara yang berbeda,dia tidak akan berbuat yang tidak sopan seperti orang orang itu.
Walaupun disutu negara tidak dilarang bertelanjang bulat di Mall,tetapi kalau hati kita mengatakan hal itu tidak baik,maka kita tidak melakukannya.
Meskipun disuatu negara tidak dilarang makan pakai kaki kiri,tetapi bagi yang berhati baik,tidak akan melakukannya.
Antara pantai dan lingkungan tidak dapat dijadikan tolak ukur dalam sikap,ekspresi dan kondisi masyarakat.
Tetapi tergantung kepada “Hati yang bermoral atau tidak” dalam masyarakat itu.
SalaM
heheheheh walaupun seperti itu ki jampang kan suka juga , klo gak suka kebangeten lho
wah bang jampang arahkan teropong ke sofa ku, kalo ada yang telanjang itu aku.
yang namanya pantai untuk turis adalah adalah tempat sementara untuk melepas stress. tak bisa bang jampang bayangkan di negara asing yang matahari tidak pernah berada diatas kepala..pemandangan begitu bangun tidur terjebak dalam kotak kotak flat bangunan, makanya begitu tiba dipantai mereka begitu ‘ LEPAS”
mungkin fantasi mereka tentang alam terbuka adalah hal yang wajar dan kita mungkin akan alami fantasi yang berbeda.. jika berada di tengah lembutnya salju…
Belum tentulah bro…. Lihatlah Bali jaman dahulu. Orang-orang Bali jaman dulu biasa-biasa aja mandi telanjang bulat bareng-bareng pria dan wanita di sungai atau pancuran. Wanita-wanita Bali malahan kemana-mana topless alias atasannya terbuka. Tapi disaat-saat seperti itu orang-orang Bali sifatnya tulus dan polos, nggak punya pikiran “aneh-aneh” sama lawan jenis. Angka perselingkuhan nol, angka perceraian nol. Angka homoseksualitas (gay-lesbi) juga nol.
Tapi di jaman modern ini, di tempat-tempat dimana orang-orang Bali pakaiannya sudah “sopan” dan tertutup, kok fenomenanya malah sebaliknya yah ? Angka perselingkuhan naik, angka perceraian naik. Angka homoseksualitas (gay-lesbi) juga naik. Whew……
Kira-kira apa sebabnya ya bro ?
Trus kalau dicermati di negara-negara tertentu di Eropa, seperti Jerman atau Perancis, dimana kalau telanjang bulat di pantai-pantai umum itu hal biasa…. angka pelecehan seksual dan kekerasan seksualnya sangat rendah.
Tapi di negara-negara yang berpakaian super tertutup…. malahan angka pelecehan seksual dan kekerasan seksualnya sangat tinggi. Termasuk korbannya adalah saudara-saudara kita yang menjadi TKW kesana…. Whew….
Kira-kira apa sebabnya ya bro ?
Kalau menurut saya sih gini….. rasa “keingintahuan visual dari pikiran”-lah yang menjerumuskan seseorang kedalam perbuatan-perbuatan seperti itu. Akibat rasa “ke-ingintahuan visual dari pikiran” ini seseorang dilihat jadi lebih sensual dan membakar libido karena tubuhnya ditutupi pakaian. SESEORANG MENJADI JAUH LEBIH DIINGINKAN DARI YANG SEHARUSNYA.
Tapi disaat secara visual “semuanya” sudah sangat sering dilihat, rasa ingin tahu itu malah jadi hilang… sensualitas juga jadi hilang dan libido tidak lagi terbakar.
Nah, keingintahuan VISUAL seperti itu lalu digantikan oleh sentuhan dan gesekan. Sensualitas dan libido hanya hadir disaat ada sentuhan-sentuhan dan gesekan-gesekan…. tapi sama istri sendiri tentunya, ha ha ha……
Shanti (peace)….
katanya ni bang
mudah-mudahan salah
makin modern makin terbuka
mohon maaf atas kekurangannya
Cermin hanya mampu membuat gambar sesuai dengan yg ada di dekatnya.
.
harusnya bikin peraturan, kalau mau berenang2 di pantai…wajib pake baju kurung, jilbab dan cadar sekalian…
dengan begitu akan tercermin budaya ‘kita’ yang sopan dan mengurangi zinah mata….
mereka yang nekat berbikini…kumpulin dalam 1 cafe atau resto, trus di bomb….dhuaaarrr……..biar kapok dan ga berani lagi mancing2 napsu si jampang…
nyatanya, ‘di negara berjilbab dan bercadar’ tingkat kajahatan nol.
gak ada pemerkosaan…, kalaupun ada kan hanya pada TKW indonesia…itupun karena mereka yg sengaja mancing-macing…
kalo di swedia dan denmark….wuiiiih….banyak yang bugil….makanya negara itu terkutuk….dibenci allah….ga maju-maju….!!
(duh…kenape gw jadi kaya ahmad rsj, ya bego nya?)