minta opini ya, terutama para putra daerah asli?
Barusan saya baca tulisan seseorang yang bercerita kalo dia sebagai keturunan asli Padang malah tidak nyaman dengan penduduk asli kota Padang karena diskriminasi. Memang dia keturunan Padang, namun besar di Papua dan tidak bisa bahasa Minang. Begitu dia mengambil kuliah di kota Padang, dia tidak punya teman dan dijauhi karena tidak bisa bahasa minang. Dia sampai sakit hati karena ucapan temannya, “masa orang Padang gak bisa bahasa Padang, mati aja kamu.” — kira-kira terjemahannya begitu.
Lain cerita, temen gw, dia kuliah di Bali dan merasa mengalami diskriminasi juga di sana. Dia memang bukan orang Bali dan murni pendatang.
Gw pun sempet mengalami diskriminasi saat gw kuliah di Bandung. Ini salah satunya: Pada saat gw mencoba masuk di suatu komunitas kebudayaan tertentu, sikap mereka juga tidak ramah. Gw bukannya gak berusaha berbaur, gw udah mencoba mengesampingkan hal itu dan tetep berusaha masuk, karena gw juga tertarik pada kebudayaan mereka dan pengen belajar. Ternyata gw lama-lama capek juga.
Kenapa hal itu masih terjadi ya? Bagi kalian putra daerah asli mungkin kalian punya jawabannya dan bantu gw untuk memahami.
Gw gak bermaksud menjelek-jelekan, cuma bertanya-tanya, dan gw juga yakin gak semua orang bersikap seperti itu.
Terima kasih.
Ditanyakan oleh PerTiwi
Jawaban terbaik mengenai pertanyaan “minta opini ya, terutama para putra daerah asli?” :
Answer by sulhadi
Saya adalah keturunan dari orang Jawa tulen lahir di Jakarta kecil di Jakarta remaja di di Jawa Kuliah di Jakarta dan Kerja di Jakarta, saya tidak memiliki masalah diskriminasi karena bendera saya sama dengan mereka yang berasala dari Betawi, Manado, Jayapuar, Sumatera, Kalimantan, banyak perbedaan dari latar belakang tetapi itu semua menjadi satu dalam satu tian yan itu merah putih.
Mungkin jangan melihat latar belakan geografis atau budaya yang sudah pasti tidak bisa disamakan, tetapi cobalah lihat warna bendera kita, merah dan putih, dimana bumi kita berpijaj disitu langit di junjung, gitu kali ya. itu saja terimakasih
http://sulhadi.co.cc/
Ingin berkomentar tentang bahasan “minta opini ya, terutama para putra daerah asli?” pada topik diatas ? Beri komentar anda!
Informasi Terkait :
Berita Terbaru :
Filed under: Sumatera | Tagged: asli, daerah, Minta, opini, Para, Putra, terutama
Aq langsung ke akhirnya sj. betul tidak semua orang seperti itu, yg bersikap sprti itu justru yg tdk bisa berbaur. dan berarti mereka tdk menghayati apa itu kebinekaan….. (sedikit pancasilais, bo!!!)
Aq sendiri pernah menetap ditempat yg berbeda. Aq kelahiran cianjur, ortu sunda asli, pernah tinggal di bandung, besar di jayapura (papua), sekarang dibandung lagi. aq pernah kenal dan pnya tmn dari berbagai daerah, dari orang aceh smpe papua, bener2 dr seluruh Indonesia. Alhamdulillah aq tdk mendpt perlakuan seperti itu justru enjoy2 sj.
BUKANKAH KEINDAHAN ITU DATANG KARENA ADANYA PERBEDAAN? Maka hormatilah perbedaan tanpa mengecilkan artinya… HIDUP INDONESIA – LAH!!!
wah sama dong kita, kuliahnya sama2 dibandung..
iya saya juga merasakan hal yang sama..
mungkin dikarenakan pada dasarnya kebudayaan tradisional mereka tsb yang masih sangat primordial dan kurang bisa menerima perbedaan yang ada, beda dengan jakarta yang kebudayaannya sudah sangat tercampur baur, dan juga sudah banyak masuk pendatang kesini sehingga jakarta lebih terlihat tidak menjunjung kedaerahan karena ya mungkin sudah tidak ada lagi unsur kedaerahan di jakarta..
maksudnya disini bukan berarti jakarta sudah tidak mempunyai kebudayaan.. bukan!!!
jakarta tetap mempunyai kebudayaan namun sikap2 primoldialisme atau bahkan chauvinisme sudah tidak tampak dijakarta, nah mungkin hal inilah yang menyebabkan perlakuan2 yang seperti mba pertiwi ceritakan, seperti saat berada disuatu daerah, kita sebagai pendatang harus bisa bahasa daerah meraka, padahalkan kita Orang Indonesia yang sudah merdeka, kalo seandainya dulu kita tidak bersatu, kita tidak akan merdeka saat ini, lalu mengapa kita sakarang terpisahkan oleh kebudayaan dan bukannya membanggakan kebudayaan tersebut sebagai salah satu dari ciri indonesia…
saya orang batak, lahir di bandung dan lama tinggal di bandung…saya tidak lancar berbahasa batak dan juga tidak lancar berbahasa sunda…kadang2 ada juga sindiran dari teman2 sesama suku batak ataupun dari suku lain mengenai hal ini tapi hanya sebatas bercanda, tidak serius…karena memang di kota besar khan komunitas masyarakatnya telah berbaur (banyak perantau) sehingga bahasa se hari2yg digunakan adalah bahasa indonesia….jadi, tak usah berkecil hati, anda punya banyak teman…
salam,
hmm… aku juga pernah di gituin ^_^
mana ortu sering pindah2…
bengkulu, padang, bukit tinggi…
tapi orang jateng dan jatim kelihatanya lebih terbuka ^_^
ah tapi memang tergantung orang nya sih…
ya kalo aku sih asik2 aja… karena mereka yang rugi kalo ga gaul sama aku ^_^
cari aja komunitas atao teman yang open minded ^_^
biarkan orang yang tertutup dan berpikiran sempit berkarat di tanahnya sendiri ^_^
somoga membantu…
Ngak heran dek…
kadang-kadang di luar negeri, kita diperlakukan lebih enak dan ramah.
haiiii…..
Memang sering kita mengalami hal-hal tsb diatas, apalagi posisi kita sebagai pendatang. Namun diluar lingkaran tsb, kadang kita mendapatkan sahabat yang sebenarnya. apalagi u percaya/yakin bahwa semua org tdk bersikap seperti dalam lingkaran kecil tsb.
Jadi carilah diluar lingkaran ekslusif itu, carilah di lingkaran umum yang justru lebih besar dan luas. Selama kita bermaksud baik dan bersahabat, akan ada sahabat baru menyambut kita.
Kesabaran dan berbesar hati adalah kunci segalanya.
`Salam persahabatan`
Tidak salah buku karangan orang Jerman tahun 1920 han, yaitu “Pasang Surut Kulit Berwarna”, bahwa bangsa kulit sawo matang tidak masuk hitungan, dan tidak akan maju, saat itu bung Karno mencak2, sampai dijadikan buku wajib dibaca untuk mahasiswa angkata 60-han, karena sampai saat ini ternyata anak2 bangsa masih “kerdil” dalam pergaulannya. Jadi de’ coba bahas langsung jika ketemu teman2 model ini, karena kok tambah mundur dalam ke Bhinekaan bangsa Indonesia ini, atau memang kita mau jadi negara federasi saja ? Atau karena kegagalan selama 5 dekade dipimpin oleh presiden yang notabene dari Jawa ? Lebih baik sekarang lihat kedepan, ada info untuk merehabilitasi bangsa yang mulai ada gejala diskriminasi, kita sepakat jangan mengharap lagi presiden dari Jawa, caranya ada yang berbisik ketelinga Oom… coba ganti tuh monumen Monasnya jangan mas diatasnya, misalnya kain ulos, sehingga saudara kita dari Samosir bisa jadi presiden Indonesia yang ke 6